Minggu, 12 Juni 2016

PERSALINAN DENGAN RESIKO



PERSALINAN DENGAN RESIKO

PERSALINAN DENGAN RESIKO
1. Induksi Persalinan
2. Ekstraksi Vakum
3. Ekstraksi Forceps
4. Sectio Caesarea

Induksi Persalinan (induction of labour)
      Pengertian :
Tindakan menstimulasi uterus agar terjadi kontraksi dan persalinan dapat dimulai (Saifuddin, 2003)
      Berdasarkan studi-studi terkini, rasionya bervariasi dari 9,5 – 33,7% dari semua kehamilan setiap tahu.

Induksi persalinan
      Induksi persalinan yang diawali dengan pematangan serviks, akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tanpa pematangan serviks.
      Tingkat kematangan serviks dinilai dengan Nilai/Skor Bishop.
            Bila skor ≥ 6 serviks matang

Indikaasi Induksi Persalinan
      Hipertensi dalam Kehamilan (Eklamsia – Preeklamsia).
      Hipertensi Kronik.
      Kehamilan Lewat Waktu (Post – term).
      Kematian Janin Intra Uterin.
      Amnionitis atau Korio – amnionitis.
      Abrupsio / Solusio Plasenta.
      Diabetes Melitus.

      Hipertensi dalam Kehamilan (Eklamsia – Preeklamsia).
      Hipertensi Kronik.
      Kehamilan Lewat Waktu (Post – term).
      Kematian Janin Intra Uterin.
      Amnionitis atau Korio – amnionitis.
      Abrupsio / Solusio Plasenta.
      Diabetes Melitus.

Kontraindikasi Induksi Persalinan
      Malpresentasi janin.
      Cacat rahim akibat SC jenis klasik.
      Plasenta previa.
      Overdistensi uterus : gemeli dan hidramnion
      Insufisiensi plasenta ataupun gawat janin, atau kesejahteraan janin yang disangsikan (melalui pemeriksaan NST maupun CST).
      Riwayat ruptur uteri
      Makrosomnia
      Hidrosefalus
      Kontraindikasi persalinan pervaginam : kelainan panggul ibu (kelainan bentuk anatomis, panggul sempit), carcinoma servix uteri, infeksi herpes genitalis aktif

Metode Pematangan Serviks Cara Tradisional/Non obat-obatan
      Herbal : minyak bunga mawar,  black haw, blue cohosh, dan daun raspberry merah (risiko dan manfaat belum diketahui )
      Hubungan Seksual
      Rangsangan puting susu
      Akupunktur dan Transkutaneus Electical Nerve Stimulation (TENS)
Metode Pematangan Serviks Medikamentosa
  1. Prostaglandine
      Dinoprostone lokal dalam bentuk jelly (Prepidil) yang diberikan dengan aplikator khusus intraservikal dengan dosis 0.5 mg.
      Dinoproston vaginal suppositoria 10 mg (Cervidil).
      Pemberian diulang tiap 6 jam bila his blm baik
      Pemberian dihentikan jika :
▫ Ketuban sudah pecah
▫ Serviks sudah matang
▫ Pemakaian prostaglandin sudah 24 jam
2. Oksitosin : Oksitosin merupakan agen farmakologi yang lebih disukai untuk menginduksi persalinan apabila serviks telah matang
      Oksitoksin di drip dalam NaCL atau RL
      Mulai dengan 2,5 IU dalam 500 cc, tetesan mulai dengan 10 tpm dan naikkan tiap 30 menit sampai kontraksi baik (3 x/ 10 m/ 40 dtk) dan pertahankan sampai terjadi persalinan
      Jika his belum baik sampai tetesan ke 60, tingkatkan pemberian oktitoksin menjadi 5 IU/500 cc

Metode Pematangan Serviks Mekanis/Bedah
      Dilator Higroskopis (menyerap endoserviks dan cairan pada jaringan lokal, menyebabkan alat tersebut membesar  dalam endoserviks dan memberikan tekanan mekanis yang terkontrol)
      Balon kateter (dimasukkan dlm endoserviks, 30-50 ml cairan fisiologis)
      Stripping of the membrane : menyebabkan dilatasi serviks secara mekanis yang melepaskan prostaglandin.
            “Stripping pada selaput ketuban dilakukan dengan memasukkan jari melalui ostium uteri internum dan menggerakkannya pada arah sirkuler untuk melepaskan kutub inferior selaput ketuban dari segmen bawah rahim”
      Memecahkan ketuban (amnitomi) : Diduga bahwa amniotomi meningkatkan produksi atau menyebabkan pelepasan prostaglandin secara lokal.



Beberapa Hal yg Harus Diperhatikan :
      Pasien hrs dirawat di RS, tdk diperkenankan rawat jalan/pulang ke rumah
      Pasien hrs dikaji secara menyeluruh (indikasi dan kontra indikasi)
      Dilakukan pemeriksaan penunjang, meliputi :
*      Darah dan urine lengkap
*      Kesejahteraan Janin (Fetal Wellbeing): Non Stress Test (NST), Contraction Stress Test (CST), maupun Biophysical Profile (BPP)
*      Nilai/Skor Bishop
      Selama menjalani induksi persalinan, pasien diawasi secara periodik, bila memungkinkan dengan Continuous Fetal Heart Rate atau Cardiotocography (CTG). Setiap hasil rekaman CTG (NST maupun CST) harus dilaporkan kepada dokter untuk dievaluasi dan ditindaklanjuti.
      Untuk FHR (Fetal Hearth Rate) mannual (Doppler atau fetoscope Laennec):
• Setiap 15 – 30 menit pada fase laten.
• Setiap 5 – 10 menit pada fase aktif.
• Setiap usai kontraksi pada kala II.

Resiko Induksi Persalinan
      Denyut jantung janin yang abnormal,
      Hiperstimulasi uterus,
      Ruptur uteri,
      Prolaps tali pusat,
      Intoksikasi ibu,

      Denyut jantung janin yang abnormal,
      Hiperstimulasi uterus,
      Ruptur uteri,
      Prolaps tali pusat,
      Intoksikasi ibu,


      Denyut jantung janin yang abnormal,
      Hiperstimulasi uterus,
      Ruptur uteri,
      Prolaps tali pusat,
      Intoksikasi ibu,

Sectio Caesarea
      Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerektomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim
      Jenis SC :
1. Abdomen : SC transperitonealis, SC komporal, SC ekstraperitonealis
2. Vagina : sayatan memanjang, melintang, huruf T

Indikasi SC
      Fetal distress
      His lemah / melemah
      Janin dalam posisi sungsang atau melintang
      Bayi besar ( BBL ≥ 4,2 kg )
      Plasenta previa
      Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul )
      Rupture uteri mengancam
      Hydrocephalus
      Partus dengan komplikasi
      Panggul sempit

Komplikasi SC
  1. Infeksi puerperal ( Nifas )
ü  Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
ü  Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung
ü  Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik
  1. Perdarahan
Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
  1. Luka dan keluhan kandung kemih
  2. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya


Ekstraksi Vakum
      Penggunaan tehnik “cupping” untuk persalinan sudah diawali pada abad ke 18.
      Profesor Young Simpson th 1849 memperkenalkan satu alat bantu persalinan yang dinamakan Ekstraksi Vakum (EV)
      Th 1956 Malmstrom mengenalkan instrumen ekstraktor vakum modern yang terbuat dari “stainless steel” namun akibat sejumlah komplikasi maka alat ini lambat laun ditinggalkan.
      EV kembali digunakan setelah dikenalkannya jenis cawan penghisap sekali pakai yang relatif lunak. Inovasi dalam desain instrumen dan ketrampilan aplikasi cawan penghisap telah meningkatkan keamanan penggunaan EV.

Persiapan Pasien
      Persiapan terpenting adalah “informed Consent” .
      Selaput ketuban pecah atau sudah dipecahkan.
      Kandung kemih kosong atau dikosongkan secara spontan atau melalui kateterisasi.
      Dilatasi servik lengkap.
      Kepala sudah engage.
      Janin diperkirakan dapat lahir per vaginam.

Indikasi EV
1. Kala II memanjang
2. Mempersingkat Kala II :
     Kelainan jantung
     Kelainan serebrovaskuler
     Kelainan neuromuskuler
     Ibu lelah
3.      Gawat janin

Kontraindikasi EV
      Penolong tidak memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan EV
      Riwayat gangguan kemajuan persalinan kala I yang nyata
      Indikasi tindakan EV tidak jelas
      Posisi dan penurunan kepala janin tidak dapat ditentukan dengan jelas
      Terdapat dugaan gangguan imbang sepalopelvik
      Kelainan letak (letak muka, letak dahi)
      Diduga atau terdapat gangguan faal pembekuan darah pada janin.

Komplikasi
Bayi :
      Laserasi kulit kepala
      Hemoragia retina
      Fraktura kranium
      Perdarahan subarachnoid
Ibu :                      
      Laserasi jalan lahir
      Inkontinensia urin dan alvi






Ekstraksi Forcep
      Ekstraksi forcep adalah suatu persalinan buatan (dg bantuan alat), janin dilahirkan dengan cunam yang dipasang di kepalanya (Bobak, 2004:798).
      Jenis-jenis Persalinan Forcep :
  1. Forcep rendah (low forcep) : forcep telah dipasang pada kepala janin sekurang-kurangnya pada stasiun +2
  2. Forcep tengah (midforcep) : pemasangan forcep pada saat kepala janin sudah masuk dan menancap di panggul tetapi diatas stasiun +2.
  3. Forcep tinggi : dilakukan pada kedudukan kepala diantara -3 atau -2, artinya ukuran terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul dengan perkataan lain kepala masih dapat goyang. Forcep tinggi sudah diganti dengan seksio cesaria

Syarat Aplikasi Forceps
      Serviks harus berdilatasi penuh
      Posisi kepala harus dikenali
      Tipe pelvis harus dikenali
      Membran amnion sdh ruptur
      Tidak ada kecurigaan disproporsi ukuran kepala dan ukuran pelvis
      Tersedia fasilitas adekuat dan dapat menunjang
      Operator harus kompeten

Indikasi Forcep
      Ibu : eklamsi, preeklampsia, ruptur uteri membakat, penyakit jantung, penyakit paru-paru, gangguan kesadaran dan ibu keletihan.
      Janin : janin yang mengalami disstress, solusio plasenta, prolaps tali pusat.
       Waktu : persalinan kala II lama (kontraksi lemah, usaha mengejan ibu lemah)

Kontraindikasi Forcep
      Ketidakmampuan menentukan presentasi dan posisi kepala fetus atau pelvik yg adekuat
      Adanya disproporsi cepalo pelvic.
      Kepala masih tinggi.
      Pembukaan belum lengkap.
      Adanya fistula vagina.
      Operator tidak berpengalaman
      Tidak ada dukungan fasilitas dan staf
      Penolakan pasien

Komplikasi Forcep
IBU
      Laserasi  serviks, vagina perineum dan VU.
      Episiotomi
      Meningkatnya jumlah perdarahan.
      Hematoma
      Ruptur uterus

BAYI
      Bekas forceps pada wajah, memar, laserasi, sefalhematom
      Fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial
      Infeksi yang berkembang menjadi sepsis yang dapat
menyebabkan kematian serta encefalitis sampai meningitis.
      Trauma saraf fasial.
      CP, retardasi mental,
      Perilaku





TERIMAKASIH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar