PERSALINAN
DENGAN RESIKO
PERSALINAN DENGAN RESIKO
1. Induksi Persalinan
2. Ekstraksi Vakum
3. Ekstraksi Forceps
4. Sectio Caesarea
Induksi Persalinan (induction of
labour)
•
Pengertian :
Tindakan
menstimulasi uterus agar terjadi kontraksi dan persalinan dapat dimulai
(Saifuddin, 2003)
•
Berdasarkan studi-studi
terkini, rasionya bervariasi dari 9,5 – 33,7% dari semua kehamilan setiap tahu.
Induksi
persalinan
•
Induksi persalinan yang
diawali dengan pematangan serviks, akan memberikan hasil yang jauh lebih baik
dibandingkan dengan tanpa pematangan serviks.
•
Tingkat kematangan
serviks dinilai dengan Nilai/Skor Bishop.
Bila
skor ≥ 6 serviks matang
Indikaasi Induksi Persalinan
•
Hipertensi dalam
Kehamilan (Eklamsia – Preeklamsia).
•
Hipertensi Kronik.
•
Kehamilan Lewat Waktu
(Post – term).
•
Kematian Janin Intra
Uterin.
•
Amnionitis atau Korio –
amnionitis.
•
Abrupsio / Solusio
Plasenta.
•
Diabetes Melitus.
•
Hipertensi dalam
Kehamilan (Eklamsia – Preeklamsia).
•
Hipertensi Kronik.
•
Kehamilan Lewat Waktu
(Post – term).
•
Kematian Janin Intra
Uterin.
•
Amnionitis atau Korio –
amnionitis.
•
Abrupsio / Solusio
Plasenta.
•
Diabetes Melitus.
Kontraindikasi Induksi Persalinan
•
Malpresentasi janin.
•
Cacat rahim akibat SC
jenis klasik.
•
Plasenta previa.
•
Overdistensi uterus :
gemeli dan hidramnion
•
Insufisiensi plasenta
ataupun gawat janin, atau kesejahteraan janin yang disangsikan (melalui
pemeriksaan NST maupun CST).
•
Riwayat ruptur uteri
•
Makrosomnia
•
Hidrosefalus
•
Kontraindikasi
persalinan pervaginam : kelainan panggul ibu (kelainan bentuk anatomis, panggul
sempit), carcinoma servix uteri, infeksi herpes genitalis aktif
Metode Pematangan Serviks Cara
Tradisional/Non obat-obatan
•
Herbal : minyak bunga
mawar, black haw, blue cohosh,
dan daun raspberry merah (risiko dan manfaat belum diketahui )
•
Hubungan Seksual
•
Rangsangan puting susu
•
Akupunktur dan Transkutaneus
Electical Nerve Stimulation (TENS)
Metode Pematangan Serviks Medikamentosa
- Prostaglandine
•
Dinoprostone lokal dalam
bentuk jelly (Prepidil) yang diberikan dengan aplikator khusus intraservikal
dengan dosis 0.5 mg.
•
Dinoproston vaginal
suppositoria 10 mg (Cervidil).
•
Pemberian diulang tiap
6 jam bila his blm baik
•
Pemberian dihentikan
jika :
▫ Ketuban sudah pecah
▫ Serviks sudah matang
▫ Pemakaian prostaglandin sudah 24 jam
▫ Ketuban sudah pecah
▫ Serviks sudah matang
▫ Pemakaian prostaglandin sudah 24 jam
2. Oksitosin : Oksitosin
merupakan agen farmakologi yang lebih disukai untuk menginduksi persalinan
apabila serviks telah matang
•
Oksitoksin di drip
dalam NaCL atau RL
•
Mulai dengan 2,5 IU
dalam 500 cc, tetesan mulai dengan 10 tpm dan naikkan tiap 30 menit sampai
kontraksi baik (3 x/ 10 m/ 40 dtk) dan pertahankan sampai terjadi persalinan
•
Jika his belum baik
sampai tetesan ke 60, tingkatkan pemberian oktitoksin menjadi 5 IU/500 cc
Metode Pematangan Serviks Mekanis/Bedah
•
Dilator Higroskopis (menyerap
endoserviks dan cairan pada jaringan lokal, menyebabkan alat tersebut
membesar dalam endoserviks dan
memberikan tekanan mekanis yang terkontrol)
•
Balon kateter (dimasukkan
dlm endoserviks, 30-50 ml cairan fisiologis)
•
Stripping of the membrane
: menyebabkan dilatasi serviks secara
mekanis yang melepaskan prostaglandin.
“Stripping
pada selaput ketuban dilakukan dengan memasukkan jari melalui ostium uteri
internum dan menggerakkannya pada arah sirkuler untuk melepaskan kutub inferior
selaput ketuban dari segmen bawah rahim”
•
Memecahkan ketuban
(amnitomi) : Diduga bahwa amniotomi meningkatkan
produksi atau menyebabkan pelepasan prostaglandin secara lokal.
Beberapa Hal yg Harus Diperhatikan :
•
Pasien hrs dirawat di
RS, tdk diperkenankan rawat jalan/pulang ke rumah
•
Pasien hrs dikaji
secara menyeluruh (indikasi dan kontra indikasi)
•
Dilakukan pemeriksaan
penunjang, meliputi :
•
Selama menjalani
induksi persalinan, pasien diawasi secara periodik, bila memungkinkan dengan Continuous
Fetal Heart Rate atau Cardiotocography (CTG). Setiap hasil rekaman CTG (NST
maupun CST) harus dilaporkan kepada dokter untuk dievaluasi dan
ditindaklanjuti.
•
Untuk FHR (Fetal
Hearth Rate) mannual (Doppler atau fetoscope Laennec):
• Setiap 15 – 30 menit pada fase laten.
• Setiap 5 – 10 menit pada fase aktif.
• Setiap usai kontraksi pada kala II.
• Setiap 15 – 30 menit pada fase laten.
• Setiap 5 – 10 menit pada fase aktif.
• Setiap usai kontraksi pada kala II.
Resiko Induksi Persalinan
•
Denyut jantung janin
yang abnormal,
•
Hiperstimulasi uterus,
•
Ruptur uteri,
•
Prolaps tali pusat,
•
Intoksikasi ibu,
•
Denyut jantung janin
yang abnormal,
•
Hiperstimulasi uterus,
•
Ruptur uteri,
•
Prolaps tali pusat,
•
Intoksikasi ibu,
•
Denyut jantung janin
yang abnormal,
•
Hiperstimulasi uterus,
•
Ruptur uteri,
•
Prolaps tali pusat,
•
Intoksikasi ibu,
Sectio Caesarea
•
Sectio caesarea adalah
pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding
uterus atau vagina atau suatu histerektomi untuk melahirkan janin dari dalam
rahim
•
Jenis SC :
1. Abdomen : SC transperitonealis, SC
komporal, SC ekstraperitonealis
2. Vagina : sayatan memanjang,
melintang, huruf T
Indikasi SC
•
Fetal distress
•
His lemah / melemah
•
Janin dalam posisi sungsang
atau melintang
•
Bayi besar ( BBL ≥ 4,2
kg )
•
Plasenta previa
•
Disproporsi
cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul )
•
Rupture uteri mengancam
•
Hydrocephalus
•
Partus dengan
komplikasi
•
Panggul sempit
Komplikasi SC
- Infeksi puerperal ( Nifas )
ü Ringan,
dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
ü Sedang,
suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung
ü Berat,
peritonealis, sepsis dan usus paralitik
- Perdarahan
Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
- Luka dan keluhan kandung kemih
- Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya
Ekstraksi Vakum
•
Penggunaan tehnik “cupping”
untuk persalinan sudah diawali pada abad ke 18.
•
Profesor Young Simpson
th 1849 memperkenalkan satu alat bantu persalinan yang dinamakan Ekstraksi
Vakum (EV)
•
Th 1956 Malmstrom
mengenalkan instrumen ekstraktor vakum modern yang terbuat dari “stainless
steel” namun akibat sejumlah komplikasi maka alat ini lambat laun
ditinggalkan.
•
EV kembali digunakan
setelah dikenalkannya jenis cawan penghisap sekali pakai yang relatif lunak.
Inovasi dalam desain instrumen dan ketrampilan aplikasi cawan penghisap telah
meningkatkan keamanan penggunaan EV.
Persiapan Pasien
•
Persiapan terpenting
adalah “informed Consent” .
•
Selaput ketuban pecah
atau sudah dipecahkan.
•
Kandung kemih kosong
atau dikosongkan secara spontan atau melalui kateterisasi.
•
Dilatasi servik
lengkap.
•
Kepala sudah engage.
•
Janin diperkirakan
dapat lahir per vaginam.
Indikasi EV
1. Kala II memanjang
2. Mempersingkat Kala II :
–
Kelainan jantung
–
Kelainan
serebrovaskuler
–
Kelainan neuromuskuler
–
Ibu lelah
3.
Gawat janin
Kontraindikasi EV
•
Penolong tidak memiliki
kompetensi untuk melakukan tindakan EV
•
Riwayat gangguan
kemajuan persalinan kala I yang nyata
•
Indikasi tindakan EV
tidak jelas
•
Posisi dan penurunan
kepala janin tidak dapat ditentukan dengan jelas
•
Terdapat dugaan
gangguan imbang sepalopelvik
•
Kelainan letak (letak
muka, letak dahi)
•
Diduga atau terdapat
gangguan faal pembekuan darah pada janin.
Komplikasi
Bayi :
•
Laserasi kulit kepala
•
Hemoragia retina
•
Fraktura kranium
•
Perdarahan subarachnoid
Ibu :
•
Laserasi jalan lahir
•
Inkontinensia urin dan
alvi
Ekstraksi Forcep
•
Ekstraksi forcep adalah
suatu persalinan buatan (dg bantuan alat), janin dilahirkan dengan cunam yang
dipasang di kepalanya (Bobak, 2004:798).
•
Jenis-jenis Persalinan
Forcep :
- Forcep rendah (low forcep) : forcep telah dipasang pada kepala janin sekurang-kurangnya pada stasiun +2
- Forcep tengah (midforcep) : pemasangan forcep pada saat kepala janin sudah masuk dan menancap di panggul tetapi diatas stasiun +2.
- Forcep tinggi : dilakukan pada kedudukan kepala diantara -3 atau -2, artinya ukuran terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul dengan perkataan lain kepala masih dapat goyang. Forcep tinggi sudah diganti dengan seksio cesaria
Syarat Aplikasi Forceps
•
Serviks harus
berdilatasi penuh
•
Posisi kepala harus
dikenali
•
Tipe pelvis harus
dikenali
•
Membran amnion sdh
ruptur
•
Tidak ada kecurigaan
disproporsi ukuran kepala dan ukuran pelvis
•
Tersedia fasilitas
adekuat dan dapat menunjang
•
Operator harus kompeten
Indikasi Forcep
•
Ibu : eklamsi,
preeklampsia, ruptur uteri membakat, penyakit jantung, penyakit paru-paru,
gangguan kesadaran dan ibu keletihan.
•
Janin : janin yang
mengalami disstress, solusio plasenta, prolaps tali pusat.
•
Waktu : persalinan kala II lama (kontraksi
lemah, usaha mengejan ibu lemah)
Kontraindikasi Forcep
•
Ketidakmampuan
menentukan presentasi dan posisi kepala fetus atau pelvik yg adekuat
•
Adanya disproporsi cepalo
pelvic.
•
Kepala masih tinggi.
•
Pembukaan belum
lengkap.
•
Adanya fistula vagina.
•
Operator tidak
berpengalaman
•
Tidak ada dukungan
fasilitas dan staf
•
Penolakan pasien
Komplikasi Forcep
IBU
•
Laserasi serviks, vagina perineum dan VU.
•
Episiotomi
•
Meningkatnya jumlah
perdarahan.
•
Hematoma
•
Ruptur uterus
BAYI
•
Bekas forceps pada
wajah, memar, laserasi, sefalhematom
•
Fraktur tengkorak,
perdarahan intrakranial
•
Infeksi yang berkembang
menjadi sepsis yang dapat
menyebabkan kematian serta encefalitis sampai meningitis.
menyebabkan kematian serta encefalitis sampai meningitis.
•
Trauma saraf fasial.
•
CP, retardasi mental,
•
Perilaku
TERIMAKASIH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar